LIMA SAHABAT DAN HUTAN GUNDUL
Pagi yang cerah seperti
biasa aku dan adik ku mengerjakan pekerjaan rutin kami membereskan kamar. Aku
dan adik ku tidur dalam satu kamar. Kami tidak sekolah karena hari libur
menjelah Natal dan Tahun Baru. Adik ku Budi memiliki hobi yang sangat unik dari
dia SMP, ia sangat senang membudidayakan tanaman hias padahal usianya baru 16
tahun. Diusianya yang baru mengijak 16 tahun dia memiliki pulah pot tanaman
hias dari beberapa jenis.
Saat
asik dengan hobiku mencangkok pohon buah, adik ku menyapa ku dan bertanya
tentang bunga raksasa yang dia tonton di TV. Aku dan Budi berencana mencari
bunga itu dan melihat langsung bentuk bunga raksasa itu. Ternyata bunga itu
berada tak jauh dari rumahnya.karena sesuai berita yang di tonton di TV
terletak di gunung tepat di belakang rumah. Aku dan Budi tak lupa mengajak ke
tiga sahabatku.
Petualangan
dimulai, untuk berpetualang ke gunung mencari dan melihat langsung bunga
raksasa yang indah itu. dengan semangat tinggi kami berangkat, kami tak memikirkan
rintangan yang kami hadapi. Baru setengah perjalanan kami terkejut melihat
pohon-pohon yang ada di depan kami habis gundul di tebangi oleh orang yang tak
bertanggung jawab. Aku yang sangat menyukai tumbuhan sangat sedih dan marah melihat
hutan yang indah ini gundul oleh orang yang tak bertanggung jawab. Karena tak
ingin tinggal diam Rian memiliki ide yang bagus “ teman teman bagaimana kalau
kita kerjain mereka?” celetuk Rian yang
mulai kesal dengan kelakuan 2 penebang liar.
“Tapi….
Bagaimana caranya? mereka membawa senjata tajam dan tubuh mereka besar…” bisik
Budi. Rian memang pintar dalam hal teknologi, dengan memanfaatkan alat dan
barang yang ada di tasnya, dia membuat sirine polisi. Karena penebang liar pikir
itu polisi sungguhan mereka lari ketakutan. Mereka membawa lari alat dan mobil
mereka. Aku dan teman teman hanya bersorak gembira.
Perjalanan
di lanjutkan awalnya kami tak menemukan halangan dalam perjalanan. Tapi di
jalan kami bertemu dengan seekor Monyet yang terjerat di tali pemburu. Saat
berusaha melepaskan tali dari monyet malang itu. “asem…monyet kurang ajar,,
dilepas malah nyokot…huhh,, asem tenan” serentak aku dan teman teman yang lain
tertawa.
Kami
pun membuka tenda dan makan malam dengan bekal yang kami bawa. Paginya kami
melanjutkan perjalanan lagi. Sungguh menakjubkan aku melihat bunga yang sangat
besar, membuat aku sedikit tidak percaya Budi adikku yang sangat menyukai bunga
hias sangat senang dan langsung berfoto-foto. “Sayang ya kak, bunga ini tidak
bisa kita ambil karena dilindungi.” Dengan sedikit kecewa adikku mengatakan
itu.
Pagi
mereka sampai di rumah dengan selamat. Esok harinya kami berkumpul kembali di
rumah Ardi karena semalam aku dan teman-teman yang lain mendapat pesan singkat
dari Ardi agar berkumpul di rumahnya. “Teman-teman aku ada ide untuk menanami
lahan gundul yang kita lihat tempo hari di hutan.” Temanku Ardi memang jenius
dalam segala hal, dia sanggup membuat pupuk campuran yang
bisa membuat bibit pohon cepat tinggi dan besar. Ardi pun meminta aku dan Bagus
untuk membeli beberapa bibit yang akan mereka tanam dilahan gundul ditengah
hutan. Uang yang kami gunakan adalah uang hasil tabungan kami. Sedangkan Ardi
yang membeli campuran pupuk yang akan digunakan untuk memupuk pohon yang akan kami
tanam.
Dua hari telah berlalu kami membeli
bibit pohon 150 batang dan bahan-bahan untuk pupuk campuran kurang lebih 80 kg.
sedikit demi sedikit bibit dan pupuk kami bawa ke hutan. Aku dan adikku yang
membawa bibit kehutan, Ardi yang membawa pupuknya sedangkan Rian dan Bagus
membuat lubang yang akan ditanami pohon. Karena banyaknya pohon yang akan kami
tanam dua hari kemudian baru akan kami tanam bibit pohonnya.
Diam-diam ada yang memperhatikan kami
saat kami sedang sibuk dengan tugas kami masing-masing ternyata tak jauh dari
hutan gundul itu teman kami Bani dan Rifky ternyata sedang menanam semangka.
Ternyata mereka mereka memiliki niat buruk mereka ingin mencuri pupuk racilan
Ardi yang kami tinggalkan di bawah pohon. “Ni, ayo kita ambil pupuk mereka, lumayan
buat mupuk semangka kita”. Bisik Bani
kepada Rifky “ ia, Ni pupuk lagi mahal, hehehehehe”. Akhirnya pupuk kami dicuri
dan dibawa ke rumah kami.
Esok harinya, aku dan teman-temanku
kembali ke hutan untuk menanam pohon yang kami beli kemarin. Betapa terkejutnya
pupuk-pupuk racikan Ardi hilang tak berbekas sama sekali. Ardi terlihat marah
dan kesal. Akhirnya kami menunda penanaman pohon sambil mencari tahu siapa yang
mencuri pupuk dan mengumpulkan uang lagi untuk membeli pupuk.
Ditempat lain ternyata Bani dan Rifky
sedang asik menyirami kebun semangka mereka dengan pupuk yang mereka curi.
Tetapi sial yang mereka dapat mereka tak tahu bahwa pupuk itu bukan untuk
tanaman buah dua hari kemudian pohon semangka mereka layu, menguning dan rusak.
Akhirnya mereka tidak bisa membuat pohon-pohon semangka itu subur kembali
karena bahan kimia yang terkandung sangat keras, akhirnya mereka pun rugi.
Kabar tentang kebun Bani dan Rifky
rusak terdengar oleh kami, karena penasaran kami datang ke pondokan Bani dan
Rifky, benar saja mereka yang mencuri pupuk kami karena Bagus melihat sisa dari
pupuk yang Ardi buat waktu itu. Bani dan Rifky mengaku bersalah dan bersedia
mengganti uang pupuk yang mereka curi. Esok harinya setelah uang diganti dan
Ardi kembali membuat racikan pupuk yang sama, mereka kembali ke hutan yang
gundul untuk menanami pohon. Karena kecintaan kami terhadap hutan dan tumbuhan
kami menanami kembali hutan yang gundul. Setelah selesai kami tidak begitu saja
melupakan pohon-pohon yang kami tanam setiap 6 bulan sekali kami datang untuk memberi
pupuk pohon yang kami tanam. Awalnya aku dan teman-teman kesusahan mencari uang
untuk membeli pupuk karena pada saat itu kami masih kuliah sehingga kami
menyisihkan uang untuk perawatan pohon di hutan tapi sekarang tidak karena aku
sekarang sudah bekerja di Laboratorium Perusahaan Pertanian, Rian dan Bagus
bekerja di Departemen Pertanian, Ardi bekerja menjadi dosen di Universitas
Farmasi yang terkenal di Indonesia, adikku Budi masih kuliah dan berbisnis
tanaman hias.
Karena pupuk yang kami gunakan pupuk
unggulan pohon-pohon yang kami tanam bisa tumbuh besar dalam waktu singkat.
Karena kepedulian kami ini terhadap lingkungan kami dapat penghargaan dari
Pemerintah Pusat karena kami sebagai anak muda yang peduli terhadap lingkungan
dan pelestarian lingkungan. Yang lebih membuat kami terkejut kami menjadi
inspirasi untuk masyarakat dunia khususnya dalam hal kepedlian terhadap
lingkungan dan perbaikan dunia.
Sekarang karena perubahaan kecil yang
aku dan teman-teman lakukan sedikit demi sedikit kerusakaan bumi dan OZON
menjadi stabil kembali dan bumi pun kembali tersenyum karena bagian dari mereka
kembali pulih
Amanat:
Dalam melakukan perubahaan semua tidak
harus berawal dari hal yang besar, namun dimulai dari kemauan, usaha dan
persahabatan. Kita bisa merubah dunia menjadi lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar